MENDENGAR DENGAN HATI
Oleh: Dra.Daesy H Sanger, MK
H, Norman Wright dalam bukunya So you are Getting Married berkata bahwa salah satu hadiah terindah yang dapat kita berikan kepada pasangan adalah kesediaan untuk mendengarkan. Namun kenyataannya sekarang, banyak pasangan suami istri tidak lagi saling mendengarkan.
Jika ada orang yang bertanya sudah berapa lama anda tidak mendengarkan pasangan anda, apa reaksi anda? Mungkin anda akan marah atau tersinggung karena merasa tidak memiliki kekurangan pendengaran. Atau mungkin anda merasa itu pertanyaan yang tidak masuk akal karena tidak mungkin bagi suami maupun istri yang tinggal dalam 1 rumah tidak saling mendengarkan pasangannya.
Tapi coba anda pikirkan pertanyaan tersebut baik2. benarkah anda sudah mendengarkan pasangan anda? atau anda hanya sekedar mendengarkan saja? lebih lanjut Norman mencoba menjelaskan perbedaan antara ˜mendengar” (hearing) dengan ˜mendengarkan” (listening).
Hearing pada dasarnya adalah upaya kepuasan sepihak untuk mencari informasi bagi dirinya sendiri. Misalnya :mendengar siaran berita di TV.
Berbeda dengan listening yang merupakan kesediaan untuk berusaha memahami perasaan dan kebutuhan orang lain.
Jadi mendengar dengan hati yang dimaksudkan pastilah bukan hearing tapi listening.
Karena untuk listening dibutuhkan hati yang bersedia untuk belajar mendengarkan.
Ketidakmampuan dalam mendengarkan sering kali membuat banyak masalah dalam kehidupan rumah tangga. Istri akan merasa bahwa ia tidak dimengerti oleh suaminya, bahkan suami pun dapat berpikir bahwa istri tidak memahami masalah yang sebenarnya. Akibatnya komunikasi terhambat dan menimbulkan banyak pertengkaran.
Untuk itulah setiap pasangan perlu berlatih agar memiliki ketrampilan dalam saling mendengarkan. Banyak kursus yang menawarkan program tentang bagaimana menjadi pembicara yang komunikatif tetapi sedikit atau bahkan mungkin tidak satupun kursus pengembangan diri yang memberikan ketrampilan untuk menjadi pendengar yang baik.
Perlu diwaspadai, sedikitnya ada 4 kendala yang membuat suami maupun istri tidak dapat saling mendengarkan.
Pembelaan Diri saat pasangan berbicara seringkali kita memenuhi pikiran dengan penyangkalan, segudang alasan maupun rasionalisasi dari apa yang kita pikirkan ketimbang mendengarkan dengan baik apa yang ingin disampaikannya. Misalnya terlalu cepat menarik kesimpulan karena berpikir, ” ah, saya sudah tau apa yang dibicarakannya, hal itukan sudah sering disampaikannya” atau merespon dengan ucapan yang tajam dan penuh sindirian seperti laki2/wanita memang begitu, SIKAP atau Prasangka yang kita miliki terhadap pasangan kita Misalnya, memang dia keras kepala, semua yang dikatakannya harus saya turuti!
Prasangka negative seperti ini akan membuat kita kehilangan keinginan untuk bersedia mendengarkan dan memahami apa yang disampaikan.
Terlalu Cepat memotong atau menyela sebelum pasanagn kita menyelesaikan pembicaraannya. Sikap seperti ini sering menimbulkan salah paham karena informasi yang disampaikan menjadi tidak lengkap dan utuh.
Hambatan dari dalam diri kita sendiri. Seperti terlalu banyak masalah dan pergumulan yang dihadapi.
Misalnya bertumpuknya pekerjaan di kantor, masalah dengan atasan atau rekan sekerja, penyakit yang diderita, dsb. Masalah2 seperti itu dapat menghalangi kemampuan seseorang untuk mendengarkan pasangannya.
Selanjutnya anda perlu mempraktekkan 4 langkah di bawah ini supaya anda dapat mendengarkan:
1. BERUSAHALAH UNTUK TIDAK MEMILIKI PANDANGAN/PERASAAN NEGATIF TERHADAP PASANGAN
Jangan lupa, pandangan anda terhadapnya sangat mempengaruhi bagaimana anda mendengarkan. Jika anda telah memiliki perasaan dan pandangan yang negatif percayalah anada tidak pernah akan bisa mendengarkan perkataan serta perasaan pasangan anda.
2. DENGARKANLAHDENGAN PANCA INDERA ANDA
Mendengarkan tidak cukup hanya dengan telinga tetapi juga libatkanlah mata untuk menatapnya saat pasangan anda berbicara. Jangan palingkan wajah atau mendengarnya sambil membaca Koran jika ia ingin berbicara atau berbagi dengan anda. Seseorang biasanya akan merasa tersinggung atau tidak nyaman jika lawan bicaranya sibuk mengerjakan aktivitas yang lain di saat sedang berbicara.
3. LATIHLAH BEBERAPA RESPON DALAM MENDENGARKAN PASANGAN ANDA SEPERTI :
Restatement atau menjabarkan
Respon ini menunjukkan bahwa anda sungguh2 mendengarkannya dan menyatakan kembali pesan yang disampaikannya.
Misalnya, Jadi yang membuat kamu tidak ingin pergi ke pesta pernikahan Ani adalah karena kamu tidak ingin bertemu IDA.
Respon ini dibutuhkan untuk mengetahui kebenaran dari pesan yang disampaikan. Jika ternyata apa yang kita pahami salah, maka pasangan kita mempunyai kesempatan untuk meluruskannya. Hal ini akan sgt menolong untuk mencegah kesalah pahaman.
Acknowledgement of non verbal behaviour atau mengamati
Respon ini memusatkan perhatian kepada reaksi non verbal yang ditampilkan saat pasangan kita sedang berbicara. Misalnya : Aku lihat kamu selalu marah jika membicarakan bosmu di kantor
Reflection of feeling / merefleksikan
Anda dapat merefleksikan perasaan2 (mis: senang,sedih, takut,marah,dsb) yang terkandung dalam perkataan pasangan anda. Misalnya: kamu kelihatannya takut deh.
Probe atau menanyakan kembali
Agar mendapat lebih banyak pesan. Misalnya, coba kamu ceritakan lagi bagaimana peristiwa itu terjadi.
Keempat respon tersebut memang umumnya digunakan dalam pelayanan konseling, namun tampaknya bukan hanya konselor yang harus melatih listening responsive ini. tetapi juga setiap pasangan suami istri agar dapat saling memahami.
4. BELAJARLAH SABAR MENUNGGU SAMPAI PASANGAN ANDA SELESAI BICARA. Khususnya jika pasangan anda termasuk orang yang sulit untuk menyampaikan perkataannya dengan cepat. Kuncinya adalah kasih. Dengarkanlah pasangan anda dengan penuh kasih,
anda pasti sanggup bersabar untuk mendengarkannya menyampaikan pikiran, perasaan
dan segala sesuatu yang ingin disampaikannya.
” Selamat belajar mendengarkan ” dengan hati ”
NB :
Postingan diambil dari : terangduniamail@yahoogroups.com




LinkBack URL
About LinkBacks


Reply With Quote

Bookmarks