Perhitungan perayaan Nyepi perhitungannya menggunakan sistem chandra premana. Sedangkan sistem Tahun Saka menggunakan sistem surya premana. Chandra pre mana menghitung bulan atau chandra mengelilingi Bumi setiap bulan selama 354 atau 355 hari per tahun. Sedangkan Tahun Baru Saka menggunakan perhitungan surya. Bumi mengelilingi Matahari selama 365 hari 5 jam 48 menit dan 46 detik per tahun. Setiap tahun sistem chandra premana lebih cepat sepuluh hari dari surya premana.

Agar Nyepi yang menggunakan sistem Chandra Premana ketemu dengan Tahun Baru Saka, maka setiap tiga tahun ada sasih ketiga belas yang disebut sistem nampih sasih. Sistem ini sudah banyak dibahas dalam berbagai tulisan dalam wujud buku maupun tulisan di media massa. Yang patut direnungkan makna perhitungan peredaran alam tersebut. Bulan yang sejuk dan matahari yang panas dipertemukan dalam suatu perhitungan hari baik atau dewasya dalam rangka merayaan han. raya keagamaan seperti Nyepi ini.

Mempertemukan sejuk dan panas ini sesungguhnya mengandung nilai kehidupan yang sehat lahir batin. Menurut ajaran usada, sakit itu secara umumnya disebabkan oleh panas atau dingin yang melebihi ambang batas. Karena itu obatnya secara umum disebut anget atau tis. Anget dan tis disebut juga dumelada. Kalau dalam hubungan dengan sikap hidup, mungkin sifat obat yang dumelada itu analog atau mirip dengan sikap moderat.

Sikap hidup moderat itu adalah sikap hidup yang senantiasa sesuai antara harapan hidup dan kenyataan hidup. Dalam kaitan itu, Nyepi yang dirayakan setiap tahun pada sasih kesanga dan puncak Nyepi pada penanggal apisah sasih kedasa dalam perhitungan chandra premana. Sedangkan pergantian tahun Saka selalu pada 21 Maret saat tahun biasa

Peristiwa alam itu dijadikan dasar hari baik sebagai perayaan Nyepi dengan segala rangkaiannya. Dari hal itu dapat diambil makna spiritualnya agar manusia dalam hidupnya senantiasa mengembangkan hidup yang moderat, selalu berhemat menggunakan energi dirinya maupun energi alam lingkungannya. Nyepi bukan berarti segala nafsu disepikan atau dimatikan.

Menyepikan indria berarti selalu mengukur ekspresi indria sesuai kenyataan, tak sampai memaksakan diri dengan sumber daya alam yang ada. Karena, orang yang hidup dengan memaksakan keadaan diri dan lingkungan akan merusak sendi-sendi kehidupan diri dan alam. Prof Dr Emil Salim menyatakan, terjadinya sepuluh ke.rusakan di muka bumi ini disebabkan oleh bergesernya orientasi kehidupan dari need ke want. Artinya, bergesernya kehidupan dari hidup "berdasarkan kebutuhan" ke "memuaskan keinginan": yang tiada batas. Gaya hidup seperti itu membuat hidup makin penuh beban memberatkan.

Alam pun akan makin terbebani karena dieksploitasi untuk memenuhi keinginan yang tidak akan pernah terpuaskan. Hidup manusia yang tidak melatih diri untuk menyepikan indrianya agar selalu sesuai dengan daya dukung diri dan daya dukung alam, akan membuat hidup glamor secara duniawi tetapi gersang secara rohani. Karena itu, perayaan Nyepi itu hendaknya dijadikan suatu momentum untuk membina sikap hidup hemat energi diri dan energi alam agar hidup ini tidak memberatkan fisik dan psikis kita.

Jangan biarkan perayaan Nyepi berlalu demikian saja setiap tahun tanpa kita maknai untuk menguatkan kualitas hidup kita ini. Seyogianya umat Hindu terutama di Bali dapat menghemat energi dirinya dan energi alam lingkungannya agar kehidupan beragama dapat lebih berdaya guna untuk meningkatkan kualitas hidup. Glamornya kehidupan duniawi tentunya sah-sah saja, sepanjang tidak menjadi beban yang menguras energi diri dan energi alam, apalagi mengecilkan artinya hidup ini. Kesibukan manusia modern yang demikian tinggi sering hanya untuk memenuhi tuntutan ambisi yang bernuansa duniawi tanpa memperhatikan nilai-nilai kehidupan yang sebenarnya untuk hidup tenang seimbang dan hemat lahir batin.

Lima Kekotoran

Perayaan Nyepi yang didahului dengan melasti, nyejer dan taur, melukiskan secara ritual sakral agar pemujaan pada Tuhan itu melahirkan ketetapan hati untuk menaruh kepedulian pada nasib sesama, kelestarian alam lingkungan dengan meningkatkan kualitas diri dari kekotoran panca klesa - lima jenis kekotoran rohani. Saat Nyepi itulah kita bangkitkan kesadaran diri lebih dalam lagi agar menyevaluasi kemampuan kita dalam membangun hidup hemat dengan mengendalikan diri agar jangan dikotori hidup kita oleh panca klesa.

Panca klesa terdiri atas avidya, Asmita, Raga, Dwesa dan abhiniwesa. Avidya adalah kebodohan karena digelapkan hati oleh unsur sapta timira (tujuh kegelapan: surupa, dhana, guna, kula kulina, yowana, sura dan kasuran). Tujuh hal itulah yang menyebabkan orang mabuk karena kegelapan hatinya. Namun Nitisastra menyatakan, barang siapa yang tidak mabuk karena itu, dialah orang utama yang disebut Sang Mahardika dan sangat patut ditetapkan sebagai Sang Pinandita.

Asmita artinya mementingkan diri sendiri dengan merugikan orang lain, raga artinya pengumbaran hawa nafsu, dwesa artinya dendam dan benci sampai berniat menghancurkan orang yang dibenci, abhiniwesa artinya orang yang selalu dihantui oleh rasa takut karena kurang kepercayaan pada Tuhan.

Panca Klesa itulah yang akan mengotori hidup kita, yang seyogianya kita renungkan saat Nyepi untuk dibersihkan dari jiwa kita masing-masing. Kalau lima kotoran itu dapat dibersihkan dari jiwa kita masing-masing, maka manusia akan bisa hidup hemat energi diri sendiri dan hemat energi alam lingkungan. Hidup bersama pun akan menjadi lebih melegakan, tidak seperti sekarang serba menyesakkan karena boros energi diri sendiri dan boros lingkungan alam.

Inilah sesungguhnya cara kita memaknai Nyepi dewasa ini. Secara duniawi, saat Nyepi orang tidak boleh bermobil di Bali selama 24 jam. Hal itu memang sudah berhasil meredam emisi gas buang ke udara yang cukup berarti. Tinggal secara rohani kita bisa memaknai lebih dalam dan lebih luas lagi.☼Penulis – Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat.