Pembacaan : II Korintus 9:6-11
9:6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.
9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.
9:9 Seperti ada tertulis: "Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya."
9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;
9:11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.
Alasan Mengapa Kita Gagal
Anak-anak sangat mudah melemparkan dalih bila mereka tidak melakukan sebagaimana yang diminta kepada mereka. "Maaf, aku tidak mendengar," atau "Aku tidak punya waktu," atau "Aku tidak tahu kalau Ayah ingin agar aku melakukannya segera." Pernyataan-pernyataan seperti itu biasa kita dengar sebagai orangtua.
Namun ternyata, kita pun cenderung membuat berbagai pembenaran kepada Bapa pada saat kita gagal menjalankan sesuatu sebagaimana diarahkan-Nya. Jadi "dalih" sudah menjadi semacam penyakit umum. Dalih adalah upaya untuk melemparkan tanggung jawab untuk apa yang telah atau tidak kita lakukan, kepada sesuatu atau seseorang di luar diri kita sendiri.
Kita pun bisa gagal dalam mencapai rencana Tuhan karena alasan lain, yaitu egoisme. Sikap egois akan menghalangi kita untuk berhasil di dalam kerajaan-Nya. Sebaliknya kemurahan hati yaitu kerelaan untuk memberi sebagaimana yang diperintahkan Allah, untuk membantu, atau memakai waktu kita untuk kebaikan orang lain pasti akan membawa berkat Tuhan.
Penghalang lainnya adalah bila kita bertindak melawan hati nurani kita sendiri. Hal itu membuat kita menjadi bercabang hati: kita merasa bersalah atas tindakan kita, namun tetap ingin melanjutkannya. Dalam kondisi seperti itu, konsentrasi kita pasti akan menurun, sehingga kita akan semakin membatasi diri dalam menggunakan talenta dan kemampuan kita untuk melakukan pekerjaan yang diberikan Allah bagi kita.
Penghalang terakhir mengapa kita gagal adalah kemalasan kemalasan dengan berbagai alasannya, namun sama saja akibatnya: Kita tidak menaati Allah. Misalnya, Tuhan memerintahkan kita semua untuk mempraktikkan kata "saling" (Roma 12:9-16), namun seringkali kita mengabaikannya karena memang semua itu menuntut banyak usaha dari kita.
Mintalah pertolongan Roh Kudus, agar kita dapat mengatasi segala kecenderungan negatif yang dapat membawa kita kepada kegagalan. Bersedialah untuk taat untuk melakukan apapun yang Dia kehendaki untuk Anda lakukan.
Renungan : J U M A T tanggal : 18 Januari 2008 –
|||||| sumber: http://www.sentuhanhati.com/ ||||||




LinkBack URL
About LinkBacks


Reply With Quote
Bookmarks