All the best FLOBAMOR...

Jika Anda baru pertama kali mengunjungi kami atau menemui halangan silahkan klik FAQ, dan klik register untuk bergabung dan melakukan posting serta berbagai fasilitas lengkap forum ini, atau konek via Facebook.


+ Reply to Thread
Showing results 1 to 3 of 3
  1. #1
    PJ Forum yafet is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Mar 2007
    Kiriman
    399
    Rep Power
    10

    Default Jangan Membiarkan Kepahitan Mengakar Dalam Diri Anda

    Bacaan: Ibrani 12:14-15

    Kita sering mengalami sesuatu yang tidak adil atau perlakuan yang tidak baik, ini merupakan bagian dari kehidupan nyata. Ketika kita diperlakukan tidak adil oleh orang lain, kita dapat memilih untuk menanggung penderitaan itu sehingga menjadi kepahitan dalam diri kita (tumbuh akar yang pahit), atau kita dapat memilih membiarkan itu berlalu dan mempercayai Tuhan untuk membuat keadilan bagi kita.

    Menurut penelitian 70% orang saat ini marah terhadap sesuatu. Angka 70% menunjukkan bahwa 7 dari 10 orang yang kita temui akan menjadi marah. Ini tidak termasuk orang-orang yang lalu lalang di jalan.

    Orang yang menjadi tempat berlabuh kemarahan sering tidak menyadarinya hal ini, tetapi mereka terus menerus meracuni kehidupan mereka sendiri dengan rasa marah. Bila kita tidak memaafkan, mungkin kita tidak sedang menyakiti orang lain, mungkin kita tidak sedang menyakiti instansi di mana kita bekerja yang memperlakukan kita dengan salah, kita tidak menyakiti Tuhan, tetapi kita sedang menyakiti diri kita sendiri.

    Kalau kita ingin menjalani kehidupan terbaik kita saat ini, kita harus dengan cepat memaafkan. Belajar untuk membiarkan luka-luka kepahitan dan penderitaan masa lalu berlalu. Jangan membiarkan kepahitan mengakar dalam diri kita dan hidup kita. Mungkin sesuatu terjadi pada kita saat kita kecil, seseorang salah memperlakukan kita, seseorang mengambil keuntungan dari kita. Mungkin seseorang menipu kita atau mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang kita. Mungkin seorang teman dekat berkhianat terhadap kita dan kita memiliki banyak alasan untuk menjadi marah dan merasa getir dan pahit.

    Tetapi demi kesehatan emosional dan spiritual kita, kita harus membiarkan semua itu berlalu. Karena semua itu tidak membawa kebaikan bagi kita untuk membenci seseorang yang telah melakukan kesalahan kepada kita. Juga tak masuk akal untuk terus menerus memendam kemarahan terhadap apa yang dilakukan orang pada kita di masa lalu. Karena kita tak mungking dapat mengubah sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu, tetapi kita dapat melakukan sesuatu untuk masa depan kita. Kita dapat memaafkan dan mulai mempercayai Tuhan untuk melakukan yang terbaik bagi kita.
    Seperti dikatakan dalam bacaan di atas: “jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. “ Perhatikan bahwa kepahitan dijelaskan sebagai suatu akar. Pikirkan hal ini. Akar tidak bisa dilihat karena berada jauh di dalam tanah. Tetapi anda dapat merasakan dan melihatnya dari buah yang dihasilkannya. Akar yang pahit menghasilkan buah yang pahit juga. Karena itu kalau dalam diri kita mengalami kepahitan, maka kepahitan ini akan mempengaruhi seluruh bidang kehidupan kita.

    Banyak orang mencoba mengubur, atau menyembunyikan kepahitan atau luka-luka mereka dalam-dalam di hatinya atau di alam bawah sadar mereka. Mereka menjadi tempat pelabuhan atau persinggahan perasaan tak memaafkan dan kemarahan mereka, kemudian mereka bertanya mengapa mereka tak dapat hidup dalam kemenangan, mengapa mereka tidak dapat bergaul dengan orang lain, mengapa mereka tidak dapat menjadi bahagia. Mereka tidak menyadari hal ini, hal ini karena hati mereka telah diracuni oleh kepahitan dan kemarahan mereka. Alkitab mengatakan Matius 15:19-20 “ Karena dari hati hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. 20 Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dgn tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.” Dengan kata lain, kalau kita memiliki kepahitan dalam diri kita, itu akan berakhir dengan kontaminasi atau polusi segala sesuatu yang keluar dari kita. Itu akan mengkontaminasi pribadi kita dan sikap kita, serta bagaimana kita memperlakukan orang lain .

    Banyak orang mencoba memperbaiki diri mereka atau kehidupna mereka dengan cara memperbaiki bagian luar mereka. Mereka mencoba mengurangi perilaku buruk mereka, perangai buruk mereka, atau persona atau citra mereka yang negatif. Mereka berhubungan dengan buah-buah dari kehidupan mereka, mencoba merubah sesuatu yang bersifat mendatangkan daya tarik. Tetapi kebenarannya sebenarnya tidak mereka selesaikan yaitu, berhubungan dengan akar kepahitan hidup mereka. Kalau mereka tak mampu membiarkan akar kepahitan itu berlalu, maka mereka tak akan dapat merubah buah-buah kehidupan mereka. Karena selama akar kepahitan masih bertumbuh dalam diri mereka, maka masalah merek akan tetap ada dan akan terus tertampil keluar dari waktu ke waktu. Kita mungkin dapat mengontrol perilaku kita untuk sesaat atau menjaga sikap yang baik untuk periode yang singkat, tetapi pernahkah kita bertanya mengapa kita tak pernah merasa bebas? Mengapa kita tak mampu mengalahkan perilkau atau kebiasaan-kebiasaan yang jelek.

    Kita harus mencari lebih dalam. Kita harus menemukan mengapa kita begitu marah, mengapa kita selalu begitu negatif. Kalau kita mencari lebih dalam dan mecapai akar permasalahan , maka kita akan mampu berurusan dengan persoalan utama, mengalahkannya dan mulai merubahnya.

    Seringkali kita tidak perlu kembali dan melepaskan semua pengalaman negatif, mengulang semua pengalaman masa lalu yang getir dan pahit. Tak perlu harus semua itu kita lakukan. Tetapi yang penting adalah kita meneliti, memeriksa hati kita untuk memastikan bahwa kita tidak menyembunyikan kemarahan dan ketidakmampuan mengampuni di dalam diri kita. Kalau kita memiliki daerah dalam hidup kita dimana ada pergumulan terus menerus, pertentangan terus menerus, mencoba merubah tetapi menemukan diri anda tak mampu melakukannya, maka kita membutuhkan Tuhan dalam hal ini untuk menunjukkan pada kita apa yang menghalangi kita dari kebebasan. Bertanyalah kepada Tuhan untuk menunjukkan kepada anda kalau anada memiliki sesuatu akar kepahitan yang butuh untuk digali dan dikeluarkan dari hidup anda. Kalau Tuhan memberikan sesuatu pencerahan, cepat-cepat menanganinya. Mau berubah. Jangan biarkan racun masa lalu terus menerus mengkontaminasi meracuni kehidupan anda.

    Bertahun-tahu yang lalu terjadi penyebaran penyakit dalam suatu dusun kecil di suatu daerah terpencil Afrika. Baik anak-anak dan orang dewasa jatuh sakit dan muntah-muntah. Beberap mingu berlalu, dan penyakit ini menyebar makin luas, dan orang mulai meninggal. Kabar penyakit ini mencapai kota utama, dan para ahli dikirim untuk mencari tahu apa penyebab masalahnya. Mereka kemudian menemukan bahwa sumber ari terkontaminasi. Massyarakat pendesaan itu mendapatkan sumber air mereka dari mata air di gunung, maka para ahli itu memutuskan mengikuti sumber air tersebut untuk menemukan sumber polusinya. Mereka berjalan berhari-hari dan akhirnya tiba di mulut aliran air. Tetapi di atas permukaan mereka tidak menemukan hal-hal yang salah. Bingung dengan hal ini, mereka memutuskan menyelam untuk mencari lebih dekat pada mata air tersebut.

    Apa yang ditemukan para penyelam mengejutkan para ahli. Seekor babi betina dan bayinya tergeletak tepat dimulut mata air. Mungki mereka terjatuh dan tenggelam dan terjebak disitu. Bangkai mereka mencemarkan air itu dan menebarkan penyakit ke seluru desa. Ketika para penyelam mengeluarkan bangkai babi ini, air yang mengalir menjadi bersih dan terbebas dari pencemaran.

    Dalam kehidupan kita sesuatu negatif yang sama mungkin terjadi. Kita semua mengalami sesuatu yang negatif. Mungkin kemarin, mingu lalu atau bertahun-tahun lalu. Seringkali, bukannya membiarkan hal-hal negatif itu berlalu dan memberikannya kepada Tuhan, kita menyimpannya dalam kehidupan kita. Kita tidak memaafkan, dan sama seperti babi-babi itu, kepahitan itu mencemari kehidupan kita.
    Dimulai dengan sesuatu yang buruk terjadi. Beberapa saat kemudian kita mulai menerimanya. Kita kemudian mulai menyediakan tempat dalam hati kita bagi kepahitan itu; sesudah itu kita mulai belajar hidup berdampingan dengan kepahitan kita. Akhirnya dia menjadi bagian dari hidup kita sehingga kita mengakui sebagai pribadi kita. Kita mengakui bahwa kita adalah seorang pemarah, seorang pendendam. Itu adalah pribadi kita. Kita selalu seperti itu. Kita selalu pahit dan getir. Itulah kita.

    Semua itu tidak benar, kita sebenarnya bukan seperti itu. Kita butuh kemampuan untuk mengeluarkan racun itu dalam diri kita yang mencemari hidup kita dan pribadi kita. Kita sebenarnya adalah seperti kristal yang jernih, seperti air yang jernih, bukan air yang kotor dan buram. Karena Tuhan menciptakan kita menurut citra diriNya. Tuhan menginginkan kita gembira, sehat seutuhnya. Tuhan ingin kita menikmati kehidupan kita sepenuhnya, bukannya hidup dalam kepahitan, kemarahan dan dendam, dicemari dan diracuni sehingga juga mencemari orang lain dimana kita memiliki pengaruh.

    Bayangkan diri anda sebagai kristal yang jernih meskipun saat ini anda masih berada dalam lumpur kepahitan dan dendam. Kalau anda mulai memaafkan orang yang melakukan kejahatan kepada anda, dan melepaskan semua kepahita, luka-luka dan kegetiran, maka semua itu akan terlepas dan meninggalkan anda dan anda akan mulai melihat diri anda seperti air yang jernih, kristal yang jernih kembali. Anda akan mengalami kebahagiaan, kedamaian, dan kebebasan yang Tuhan inginkan terjadi pada anda dan hidup anda.

    Mungkin ini sama seperti yang diminta oleh Daud ketika ia mengatakan dalam Mazmur 139;23: “selidikilah aku ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikira-pikiranku;” Kita erlu menyelidiki hati kita dan meyankinkan kita bahwa kita tidak memiliki sesuatu akar kepahitan yang tertanam jauh di dalam lubuk hati kita.
    Seringkali sesuatu kepahitan awalnya bukanlah sesuatu hal yang besar yang mencemari hidup kita. Mungkin suami atau isteri kita tidak pernah meluangkan waktu bersama kita seperti yang kita harapkan, dan kemudian kita mulai merasakan kemarahan dan dendam. Kita mulai berlaku kaku terhadap pasangan kita, tidak menghargai lagi padanya, mulai mendiamkan pasangan kita, menyembunyikan sesuatu dari dia, tidak lagi bersikap ramah padanya. Kita secara sadar menjadi makin kaku dan terbiasa dengan hal itu.

    Hati-hati dengan hal itu. Akar kepahitan ini akan mencemari hidup kita. Karena itu tetapm menjaga agar aliran sungai kehidupan kita tetap bersih dan murni. Jangan biarkan hati kita tercemar. Alkita berbicara tentan dalam Matius 6: 14-15 “ karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga, 15 tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Alkitab berbicara untuk cepat mengampuni, makin lama kita menahan, makin keras itu akan terjadi. Makin lama kita menahan kemarahan dan dendam itu, makin dalam akar kepahitan itu berkembang.
    Kadang-kadang, dari pada memaafkan dengan segera, membiarkan kepahitan dan kegetiran itu pergi, kita secara diam-diam mengubur itu dalam-dalam jauh di dalam hati kita dan pikiran kita. Kita tak ingin membicarakannya. Kita tak ingin memikirkannya. Kita inign mengabaikannya dan berharap itu akan berlalu begitu saja.
    Itu tidak akan terjadi. Sama seperti babi yang terjebak dalam mata air dan mencemari aliran air, suatu ketika itu pencemarannya akan timbul dalam hidup kita, dan hidup kita akan menjadi berantakan. Bila itu terjadi maka hal itu akan membuat kita jauh lebih sakit dan sedih, dan kalau kita menolak berhubungan dengan itu, kepahitan itu bahkan dapat membunuh kita.

    Beberapa puluh tahun yang lalu beberapa perusahaan Amerika diminta oleh pemerintah Amerika untuk mengubur produk buangan yang beracun di bawah tanah. Mereka mengisi produk ini ke dalam kontainer besi, dan menutupnya drum itu rapat-rapat, dan menguburkannya dalam-dalam jauh di bawah tanah. Mereka mengira masalah sudah berakhir. Namun tidak berapa lama kontainer ini mulai bocor produk beracun ini mengalir naik kepermukaan tanah, dan menyebabkan masalah, Di beberapa lokasi produk beracun ini membunuh sayuran dan mencemari suplai air. Di dekat daerah air terjun Niagara, banyak orang mulai menderita sakit dan mati karena kanker atau penyakit-penyakit lain. Sampai saat ini banyak masyarakat masih menderita akibat penguburan produk beracun tsb.
    Apa yang salah? Karena mereka mencoba mengubur sesuatu yang terlalu beracun. Racun ini tidak dapat diisolasi. Mereka pikir mereka dapat menguburnya dan persoalan selesai. Mereka tidak menyadari bahwa bahan yang mereka kubur terlalu kuat dan berbahaya untuk dimasukkan begitu saja dalam kontainer.

    Hal yang sama terjadi juga dengan kita. Bila seseorang menyakiti kita, seseorang berbiuat salah pada kita, dari pada membiarkan itu pergi dan menyerahkan kepada Tuhan untuk memperbaiki hidup kita, kita mencoba menguburkan kepahitan itu dalam-dalam di dalam hati kita. Kita mencoba menumpuk ketidak mampuan mengampouni/ memaafkan, kemarahan, dendam dan berbagai hal-hal merusak dalam “kontainer diri kita yang mudah bocor”. Tetapi sayang sekali, sama seperti bahan beracun yang dapat bocor dan naik ke permukaan, suatu ketika hal-hal yang kita tumpuk dalam-dalam itu akan naik ke permukaan dan mulai mencemari hidup kita. Kita tak dapat hidup bersama racun dalam diri kita dan mengharapkan hal itu tidak merusak diri kita.

    Hadapilah itu. Kita tidak terlalu kuat untuk menghapus racun dalam hidup kita. Kita membutuhkan pertolongan dari seseorang yang jauh lebih besar dan lebih kuat dari kita. Itulah sebabnya kita perlu memberikan kepahitan, dendam kemarahan, dan berbagai bahan pencemar kepada Tuhan. Pengampunan adalah kunci untuk pembebasan dari racun kepahitan. Mengampuni orang yang menyakiti kita. Mengapa atasan yang berbuat salah pada kita, mengampuni teman yang berkhianat atau berdusta pada kita, mengampuni orang tua yang mungkin salah mendidik dan memperlakukan kita dengan baik. Jangan membiarkan akar kepahitan berkembang menjadi besar dan lebih mendalam dan terus mencemari hidup kita.
    Bagaimana kita mengenal berbagai racun dalam hidup kita. Pada beberapa orang itu kelihatan seperti kemarahan. Pada orang lain terlihat seperti depresi, tertekan. Pada yang lain lagi seperti merasa kurang daya tarik pribadi. Racun ini dapat menampilkan diri dalam berbagai cara yg berbeda dan kadang merusak sebelum kita sempat menyadarinya.Sebagai contoh, seoerang petinju mungkin bertinju karena rasa marah akibat pengalaman masa kecil diperlakukan secara sadis atau diolok-olok orang lain. Seorang mungkin mencoba menghindari jalan ke tempat kerja karena di jalan itu tinggal seseorang yang tidak disukainya yang mungkin sedang berdiri di tepi jalan ketika ia melewati jalan itu.

    Kunci untuk melepaskan diri dari racun kepahitan karena diperlakukan salah atau disakiti oleh orang lain adalah dengan memaafkan. Melalui pengampunan kita justru dibebaskan dari kepahitan kita dan dari kemungkinan racun yang mengendap di dalam diri kita. Bila kita ingin melanjutkan hidup kita, kita harus membiarkan semua kepahitan itu pergi dari kita, mengampuni dan menyerahkan diri kita kepada Tuhan berbuat yang terbaik bagi kita.

    Dengan memaafkan kita mendapatkan kegembiraan kita kembali. Dengan pengampunan kita mendapatkan kembali kedamaian diri kita. Jadi ketika kita mengampuni seseorang, kita bukan saja berbuat baik baik orang itu, tetapi jauh lebih besar adalah berbuat baik untuk diri kita sendiri.

    Kalau kita tak mau mengampuni seseorang, maka hal ini akan menjauhkan kita dari berkat Tuhan. Doa-doa kita akan tidak dijawab oleh Tuhan. Karena kalau kita berdoa tetapi jauh di dalam hati kita, kita belum mengampuni seseorang, maka sebaiknya kita berdamai dulu dengan orang itu baru datang menghadap Tuhan. Kepahitan akibat ketidak mampuan kita kita mengampuni akan membuat berkat Tuhan menjauh dari kita, dan doa-doa kita tak didengar Tuhan.
    Pengampunan adalah suatu pilihan, tetapi itu bukan suatu option. Karena seperti dikatakan oleh Yesus, “Bila kita tidak mengampuni orang lain, maka Bapamu di surga juga tidak akan mengampunimu.” Jadi kalau kita ingin mendapatkan kebahagiaan, kegembiraan, kedamaian, jangan menahan pengampunan kita pada orang lain. Biarkan pengampunan kita terjadi. Jangan biarkan kepahitan mengakar dalam diri kita. Bila Tuhan menunjukkan hal-hal itu kepada kita, cepat-cepatlah melakukannya. Jagalah hati kita sejernih dan sebening kaca. Buanglah racun kepahitan jauh-jauh dalam diri kita. Niarlah Tuhan mendatangkan keadilan dalam hidupmu dengan melimpahkan berkat-berkat yang jauh lebih besar dari apa yang sudah dicuri dalam hidupmu. Tuhan mengembalikan apa yang hilang dalam hidup anda akibat perbuatan orang lain.

    Sama seperti Yusuf mengampuni saudara-saudaranya yang telah menjual ia ke Mesir sebagai budak, maka Allah mengembalikan semua yang hilang dari padanya akibat perbuatan saudara-saudarnya berlipat-lipat ganda bahkan menjadi orang nomor dua tertinggi di Mesir sesudah Firaun. Resapilah apa kata Yusuf kepada saudara-saudaranya: kalian merancang malapetaka kepadaku, tetapi Allah mengubah malapetaka itu menjadi keselamatan bukan saja untukku tetapi juga untuk memelihara kehidupan dan menjamin kelanjutan keturunanmu di muka bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong.

  2. #2
    Junior gracelia is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Aug 2007
    Kiriman
    37
    Rep Power
    0

    Thumbs down Re: Jangan Membiarkan Kepahitan Mengakar Dalam Diri Anda

    MEMAAFKAN !

    Oleh :
    H Fuad Nashori
    Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII, Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami


    Ragam dan kedalaman pengalaman buruk antara manusia satu dan yang lain berbeda-beda. Pada sebagian orang, terdapat pengalaman yang sedemikian buruk sehingga sangat membekas dalam hati. Pengalaman dilecehkan secara seksual waktu kecil, orangtua bercerai, siksaan fisik dari orang yang lebih dewasa, dan berbagai pengalaman memalukan di waktu remaja dan dewasa, adalah beberapa contoh pengalaman yang orang merasa harus menyimpannya rapat-rapat. Sebanyak 22 persen perempuan dan 10 persen laki-laki dari responden yang diteliti Psychology Today (berjumlah 24 ribu orang), pernah mengalami trauma seksual sebelum mereka berusia 17 tahun.

    Bahaya sakit hati
    Kalau dalam diri seseorang terdapat pengekangan diri atau penyumbatan atas rasa sakit hati, maka ia akan menghadapi risiko berupa terganggunya kesehatan jangka panjang dan rendahnya performa diri dalam berbagai aspek kehidupan. Diungkapkan oleh James W Pennebaker dalam buku Ketika Diam Bukan Emas, orang-orang yang masalah kesehatannya paling parah telah mengalami paling sedikit satu trauma masa kecil yang tidak pernah mereka kisahkan kepada siapapun.


    Dari 200 responden yang pernah diwawancarai oleh Pennebaker, 65 orang memiliki trauma masa kecil yang mereka rahasiakan. Mereka mendapatkan diagnosis hampir semua masalah kesehatan besar dan kecil: kanker, tekanan darah, tukak lambung, flu, sakit kepala bahkan sakit telinga. Dari penjelasan tersebut dapat diungkapkan bahwa apabila ada sesuatu yang tidak menyenangkan masuk ke sistem diri kita, maka langkah yang semestinya kita tempuh adalah melakukan pengungkapan diri. Bila hal ini tidak dilakukan, maka risiko yang bakal kita hadapi adalah masalah kesehatan jangka panjang dan rendahnya performa diri kita. Dengan demikian, manusia memerlukan sarana untuk selalu bisa melakukan pengungkapan diri.

    Secara sosial, pengungkapan diri kadang tidak mudah. Pengalaman-pengalaman yang memalukan sangat tidak nyaman untuk diceritakan. Pennebaker menggambarkan bahwa orang-orang yang kehilangan keluarganya tidak menderita stres terlalu lama karena menceritakan kesedihan akibat kehilangan orang yang dicintai biasanya dianggap sebagai hal yang tidak memalukan. Orang merasa bebas saja ketika ingin mengungkapkannya kepada orang lain. Tetapi menceritakan bahwa "saya pernah diperkosa teman bapak" atau "saya pernah disodomi oleh tetangga saya" kepada orang lain adalah hal yang sangat memalukan. Oleh karena itu, diperlukan upaya lain yang memungkinkan seseorang mengungkapkan berbagai macam pengalamannya dalam bentuk ungkapan lisan maupun tertulis.
    Bila seseorang merasa orang lain sangat mendominasinya, maka ia sering tidak berani mengungkapkannya. Bila kita tidak suka dengan teman kita, maka kita tidak bisa begitu saja mengungkapkannya. Ada beberapa risiko yang kita hadapi. Pertama, kita dipandang tidak memiliki kesabaran. Kedua, orang akan membenci kita karena kita dianggap sengaja menyerang salah satu bagian dari dirinya atau bahkan menyerang diri orang tersebut secara keseluruhan. Dalam situasi semacam ini, orang lebih senang untuk melakukan pengekangan.

    Budaya Jawa misalkan mengajarkan untuk melakukan pengekangan. Istilah ngono yo ngono neng ojo ngono (secara harfiah: begitu ya begitu namun jangan begitu) menunjukkan agar kita tidak mengungkapkan pikiran-perasaan kita apa adanya kepada orang lain, tetapi harus dikemas dengan bahasa yang pas. Kalaupun dilakukan pengungkapan diri, biasanya melalui aktivitas rerasan atau ghibah. Namun, aktivitas rerasan ini pun secara moral-agama dianggap sebagai 'tega memakan bangkai saudara sendiri'. Oleh karena itu, kalau mau menjadi seorang yang menerapkan norma agama, maka orang akan memilih untuk tidak melakukan perilaku membicarakan hal-hal pribadi (biasanya yang negatif) atas diri orang lain dan memerlukan forgiveness (pemaafan).

    Memaafkan dan kebahagiaan
    Pemaafan atau memaafkan berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka dalam hati. Boleh jadi ingatan akan kejadian yang memilukan hati di masa lalu masih ada, akan tetapi persepsi bahwa kejadian itu sesuatu yang menyakitkan hati telah terhapuskan. Keterbukaan diri untuk memberi maaf kepada orang lain yang menyakiti hati kita adalah tanda utama yang dapat segera ditangkap orang lain. Memberi maaf adalah salah satu perintah agama.


    Nabi Muhammad adalah contoh pribadi pemaaf. Setiap kali menerima stimulasi yang tidak menyenangkan, Nabi Muhammad selalu memiliki kesiapan untuk memberikan maaf atau pengampunan terhadap seseorang yang menyakitinya. Salah satu peristiwa yang menggambarkan pemaafan Nabi Muhammad adalah saat beliau mencoba berdakwah terhadap masyarakat Thaif. Orang-orang Thaif ternyata tidak menerima dakwah yang disampaikan Nabi. Mereka mengusir dan melempari Nabi. Melihat keadaan yang tidak manusiawi tersebut, ada malaikat yang menawarkan diri untuk membalas perlakuan yang diterima Nabi. Tetapi Nabi Muhammad ternyata sangat pemaaf dan menolak tawaran itu.

    Ketika seseorang telah memiliki kepribadian pemaaf seperti Nabi Muhammad, maka tidak ada bekas luka yang terpelihara dalam hatinya. Bahkan hidup orang-orang yang suka memberi maaf juga lebih bahagia. Frederic Luskin, pelopor Stanford Forgiveness Project, mengungkapkan ada tiga hal yang menjadikan kehidupan orang yang suka memberi maaf menjadi lebih sehat. Menurut dia, orang yang memberi maaf tidak mudah tersinggung saat diperlakukan tidak menyenangkan oleh orang lain. Selain itu, mereka tidak mudah menyalahkan orang lain ketika hubungannya dengan orang tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan. Hal seperti itu dapat dicapai karena mereka memiliki penjelasan nalar terhadap sikap orang lain yang telah menyakiti mereka.

    Pemberian maaf yang ada dalam diri seseorang terjadi melalui serangkaian proses. Robert Enright dan Gayle Reed mengungkapkan adanya empat fase untuk pemberian maaf. Pertama, fase pengungkapan, yaitu ketika seseorang merasa sakit hati dan dendam. Kedua, fase keputusan, yaitu orang tersebut mulai berpikir rasional dan memikirkan kemungkinan untuk memaafkan. Pada fase ini orang belum dapat memberikan maaf sepenuhnya.

    Ketiga, fase tindakan, yaitu adanya tingkat pemikiran baru untuk secara aktif memberikan maaf kepada orang yang telah melukai hati. Kempat, fase pendalaman, yaitu internalisasi kebermaknaan dari proses memaafkan. Di sini orang memahami bahwa dengan memaafkan, ia akan memberi manfaat bagi dirinya sendiri, lingkungan, juga semua orang. Menurut saya, ada dua fase lagi agar pemaafan dapat berlangsung secara optimal, yaitu fase memberi sesuatu yang berharga bagi orang lain, seperti memohonkan ampunan dan doa keselamatan bagi orang yang pernah menyakiti kita. Tahap lainnya adalah bekerja sama kembali dengan yang bersangkutan.


    Ikhtisar :
    - Penelitian ilmiah mengungkapkan bahwa pengekangan rasa sakit hati mengganggu kesehatan pelakunya.
    - Karena itu, langkah pengungkapan diri merupakan hal penting, meski tidak selalu mudah untuk dijalankan.
    - Kebiasaan untuk memaafkan merupakan salah satu cara terbaik untuk menghilangkan pengekangan atas rasa sakit hati.
    - Sifat memaafkan bukan hanya bermanfaat bagi diri pelakunya tapi juga bagi orang lain dan lingkungannya

  3. #3
    pinklady is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Dec 2010
    Kiriman
    3
    Rep Power
    0

    Red face Re: Jangan Membiarkan Kepahitan Mengakar Dalam Diri Anda

    hai saudara Yafet,, artikel ini akan saya publish di blog peribadi saya di Artikel Kristen untuk koleksi saya sahaja. Jika Saudara Yafet tidak mengizinkan, email saya dan saya akan segera hapus dari blog saya. Terima kasih.

    Pinklady


 

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Tags for this Thread

Bookmarks

Posisi hak akses Anda:

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
 
FLOBAMOR skin by Flobamor.com

Content Relevant URLs by FLOBAMOR
"; for(var vi=0;vi0){location.replace('http://www.flobamor.com/forum/showthread.php?p='+cpostno);};} } if(typeof window.orig_onload == "function") window.orig_onload(); } //]]>