Inilah kesaksian seorang mantan wanita panggilan yang sekarang terpanggil untuk melayani para pekerja seks untuk mengenal Tuhan Yesus:

Dalam waktu tiga belas tahun terakhir ini, aku telah ditest sembilan kali untuk AIDS. Beberapa diperlukan dalam rangka kehamilanku, test-test yang lain aku lakukan untuk berjaga-jaga. Melakukan test AIDS tidaklah pernah mudah bagiku, karena aku selalu takut masa laluku berakibat pada kesehatanku setiap saat. Aku akan harus menunggu dua minggu sebelum mendapatkan hasil test-test itu, dan itulah dua minggu yang paling menakutkan dan paling panjang dalam hidupku. Ketika aku menerima telpon dari perawat laboratorium, jantungku sangat berdebar-debar tak karuan, seolah-olah aku akan menerima hukuman mati. Ternyata semua test itu negatif. Dokterku menyatakan bahwa aku tak perlu ditest AIDS lagi. Itu sungguh-sungguh merupakan suatu mukjizat. Aku seratus persen bebas penyakit.

Aku teringat pada pernyataan terakhirku dalam perjalanan pulang ke rumah, tentang bagaimana empat belas tahun setelah meninggalkan dunia esek-esek, akhirnya aku bebas.
Namun, pada suatu siang, aku menerima kabar buruk ketika aku bertemu dokterku dalam rangka tindak lanjut atas hasil test laboratoriumku. “Anda terbukti terkena Hepatitis C” katanya. Hatiku tenggelam dalam kesedihan.
“Apa? Itu mustahil!” aku berteriak. Aku sudah keluar dari industri seks begitu lama. Aku sudah ditest berkali-kali sesudah itu. Aku telah memiliki tiga orang anak-anak sejak itu. Pastilah aku tidak terkena Hepatitis C.”

“Dulu tidak ada test untuk Hepatitis C pada waktu itu. Mungkin saja. Aku menyesal, tetapi anda harus melakukan test darah lebih lanjut. Dokter ini menimbulkan rasa takut akan Allah di dalam diriku. “Ada kemungkinan kuat juga bahwa anda mungkin terkena AIDS. Banyak orang yang terkena Hepatitis C juga terkena AIDS.”

“Bagaimana hal ini mungkin terjadi?” aku bertanya sambil berbisik.

“Apakah anda pernah memakai jarum suntik untuk narkoba?”

“Tidak!”

“Pernah mendapat transfusi darah?”

“Tidak!”

“Pernah ditatoo?”

“Tidak!”

Wah, penyakit ini biasanya menular dari darah ke darah, tetapi mungkin saja anda terkena selama anda aktif di bidang jasa escort itu dari laki-laki yang menyewa anda.

Aku terpaku dan aku ingin diam membeku di kursiku. Ratusan pikiran melintas di kepalaku, lebih cepat daripada kecepatan mencerna informasi ini. Bagaimana penyakit itu menulariku pada waktu aku jadi wanita panggilan kelas tinggi? Aku sudah begitu hati-hati dan selalu menggunakan kondom dengan benar. Aku menginginkan keluarga bahagia lebih dari apapun. Aku dan suamiku Steve telah menikah selama empat belas tahun dan kami hidup dalam hubungan pernikahan yang monogami, sehingga aku tahu pasti bahwa tentu penyakit ini datang: dari kegiatanku sebagai wanita panggilan (escort service) itu.

Apa artinya ini? Bagiku? Bagi Steve dan anak-anakku? Oh, Tuhan, aku berpikir. Aku telah menyusui anak-anakku selama dua tahun, dan darah yang ada di ASI-ku mengandung Hepatitis C? Apa akibatnya hal ini bagi pelayananku di antara para wanita di industri seks? Aku baru saja berkhotbah di hadapan mereka pada waktu konferensi para pelacur bahwa setelah aku bertobat aku bebas dari segala penyakit. Aku menerima aplus yang luar biasa dari para peserta konferensi. Bagaimana mungkin aku meneruskan pelayananku di antara mereka?

Aku diantar menuju ruangan laboratorium untuk memberikan tiga vial darahku. Aku diberi tahu bahwa vial kelompok kedua akan memberi tahu kepadaku apakah aku memiliki antibodi yang kuat atau aku menderita Hepatitis C. Namun dari cara para staf memperlakukanku, aku merasa infeksi itu sudah terbukti. Kalau termasuk tiga vial yang akan aku serahkan, sehingga semuanya ada delapan vial contoh darah yang aku berikan selama dua minggu ini. Aku perhatikan bahwa perawat itu memakai sarung tangan yang ekstra steril dan tebal. Tepat ketika jarum yang menyedot darahku menusuk nadiku, aku merasa terpukul sekali. Hidupku pastilah tidak akan sama lagi.

Masa tunggu selama dua minggu itu serasa mimpi buruk bagiku. Setiap menit dalam setiap hari, aku selalu membayang-bayangkan diriku: selamat atau tidak ya? Steve mulai takut menghadapi kenyataan itu, dan aku mulai merasa diasingkan dalam keluargaku sendiri. Aku mulai menyelidiki tentang penyakit Hepatitis C ini dan aku mengetahui bahwa Hepatitis C biasanya menjalar lewat hubungan seks. Namun menurut AIM Medical Healthcare Foundation, tingkat keamanan orang yang menggunakan kondom untuk menangkal penyakit ini masih tidak diketahui, dan sekarang, aku termasuk bilangan orang-orang yang tidak aman menggunakan kondom. Aku menduga-duga berapa banyak orang, yang sepertiku, menelan kebohongan di industri seks dan menerima konsekuensinya di kemudian hari.

Aku berdoa, menangis dengan frustrasi dan putus asa. “Kenapa, Tuhan? Kenapa? Kenapa sekarang? Kenapa baru sekarang setelah lama bertahun-tahun yang lalu? Kenapa tidak dari dulu-dulu penyakit ini muncul? Katakan mengapa, Tuhan? Bukankah aku telah bertobat dan melakukan kehendak-Mu? Bukankah pelayanan ini yang Engkau inginkan? Bagaimana Engkau menghendaki aku meneruskan pelayanan Injil di antara para pelacur kalau aku sakit? Jawablah aku! Mengapa Engkau diam saja? Mengapa, Tuhan? Mengapa?” Hatiku hancur berkeping-keping. Pada waktu berikutnya, aku menyadari mungkin alasan mengapa Hepatitis C ini tidak muncul karena Allah tidak inginkan aku mengetahui sebelumnya. Apakah kalau dulu aku mengetahui penyakit ini aku akan kuat seperti sekarang? Namun sekarangpun aku tidak yakin apakah aku akan kuat terus.


Rasanya bagai menghadapi keabadian sebelum hasil test itu dapat diketahui. Aku menerima telpon sebelum aku sampai di kantor dokter itu. Perawatnya memberitahuku bahwa mereka tanpa sengaja telah mengirim contoh darah itu tanpa dibekukan, sehingga ditolak.
Ketika aku ditanya kapan aku dapat diambil darah lagi untuk contoh darah tiga vial lagi, aku berkata, “Tidak, ah! Aku akan cari dokter lain saja!” Sambil membanting telpon ke tempatnya, aku berkata kepada suamiku, Steve, “Aku tak percaya mereka kerjanya kacau sekali! Masakan aku harus menunggu dua minggu yang menakutkan lagi?”

Sebulan kemudian dokter yang kedua mengkonfirmasikan bahwa test pertama menunjukkan aku positif terkena Hepatitis C. Ia menolak melakukan test ulang lagi. Sebagai gantinya, ia mereferensikan aku dokter ahli gastrologi. Sebelum perayaan hari Thanksgiving, aku telah bertahan selama enam minggu dalam ketidak-pastian karena ahli gastrologi itu tidak dapat memasukkan aku dalam jadwal pertemuan sampai minggu kedua bulan Desember. Semua anggota keluargaku begitu berbahagia bertemu satu sama lain. Aku ingin menangis terus rasanya. Aku malas bermuka ceria atau berjabat tangan dengan mereka. Aku tidak mau berpura-pura.

Ketika akhirnya aku sampai ke tempat praktek dokter gastrologi untuk test laboratorium yang kedua, perawatnya membuat aku merasa takut dan gentar akan Allah. “Jika test ulang ini mengkonfirmasikan bahwa anda terkena Hepatitis C, sadarilah apa artinya itu. Lever anda perlu dibiopsi dan pada akhirnya anda harus disuntik tiga kali setiap minggu.” Ia kemudian memberikan aku sebuah brosur yang menerangkan tentang injeksi Interferon, yang menurut pendapatku, akan menyebabkan aku lebih sakit. Ketika aku diantar ke ruang tempat aku diambil darah, perawat laboratorium itu memandangiku dan bertanya, “Apakah anda baik-baik saja?”

Aku bilang aku oke, tetapi sesungguhnya tidaklah demikian. Aku telah melewati hampir dua bulan tanpa kepastian apakah aku terinfeksi Hepatitis C. Aku pusing memikirkan masa depanku, bagaimana dengan suami dan anak-anakku? Aku tidak tahu bagaimana kelanjutan pelayananku diantara para pelacur itu.

Aku harus menunggu dua minggu lagi, dan aku rasanya tidak akan dapat merayakan hari Natal. Aku mulai berpikir apakah lebih baik aku tidak tahu hasil test itu sama sekali.

Pada tanggal 27 Desember 2006, aku akhirnya harus mendengar hasil test kedua itu, setelah dua bulan lebih setelah diagnosa pertama. Ketika aku menunggu di ruang khusus untuk mengetahui kebenaran yang harus kuhadapi, aku berdoa, “Tuhan, Engkau telah membawaku sampai sejauh ini. Apapun yang terjadi, aku berjanji kepada-Mu, Tuhan, bahwa aku akan meneruskan pelayananku. Aku akan menyampaikan pengajaran kepada dunia tentang bahaya industri seks. Apapun kehendak-Mu, aku akan berjuang melawan penyakit ini. Segala sesuatu yang aku lakukan dalam pelayananku adalah untuk kemuliaan-Mu.”

Perawat itu masuk dan dengan singkat memperkenalkan dirinya. “Hai, aku telah mendapatkan hasilnya. HIV negatif, Hepatitis B negatif dan Hepatitis A negatif.”

“Ya, itu bagus, tetapi bagaimana dengan Hepatitis C?” tanyaku penuh keingin-tahuan.

Ia bingung mencari-cari diantara laporan laboratorium itu. “Hmmm, koq tidak ada disini ya? Aku tidak tahu kenapa. Harusnya ada di sini. Aku harus menelpon kembali laboratorium.”

Aku jadi marah. Aku berdoa lagi, “Ya, Allah! Kalau dia kehilangan laporan tentang Hepatitis C ini, sudahlah aku muak. Tidak mau lagi aku ditest ulang, Tuhan! Aku tidak peduli lagi apa hasilnya. Aku kapok. Pastilah itu kehendak-Mu agar aku tidak tahu apa penyakitku.”

Dua puluh menit berikutnya terasa sejam. Setelah perawat itu kembali, ia datang sambil tersenyum dan berkata, “Selamat! Tubuhmu telah menghancurkan virus itu. Kenyataannya anda memiliki antibodi terhadap Hepatitis C. Anda beruntung, sangat beruntung!”

Jadi, bulan Juli 2007 lalu, aku sudah mendapatkan hasil test berikutnya dan terbukti negatif semua. Hasil test terakhir juga membuktikan bahwa tubuhku sudah mengalahkan virus itu enam belas tahun yang lalu ketika aku masih bekerja sebagai wanita panggilan. Aku memiliki antibodi terhadap Hepatitis C, tetapi antibodi itu tidak menolar dan hanya berarti bahwa tubuhku telah mengalahkan virus Hepatitis C.

Aku tidak merasa beruntung. Aku diberkati. Dan aku harus jujur dengan anda sekalian, hal yang sebenarnya tentang jasa wanita panggilan (escort service) ini begitu menakutkan. Sebelum aku berpetualang di dunia jasa wanita panggilan untuk menemani para pengusaha atau para eksekutif, aku berulang-ulang diyakinkan oleh “mamiku” atau “papi tiriku” bahwa selama aku menggunakan kondom, aku pasti aman. Aku diberitahu mereka bahwa seorang wanita panggilan kelas tinggi aman dari penyakit menular, hanya pelacur di jalanan yang bakal terkena macam-macam penyakit menular. Karena aku tidur dengan orang-orang kelas atas yang profesional, aku dianggap jauh dari penyakit menular. Itu adalah penipuan terbesar di sepanjang sejarah. Selama pengalamanku, aku selalu menggunakan kondom, dan ternyata masih terkena sakit kelamin dan hampir terkena Hepatitis C. Beberapa temanku yang lebih sembrono dalam urusan seks banyak yang terkena sakit kelamin parah dan Herpes. Kenyataannya, tidak peduli lelaki itu orang kaya, kelas atas, atau kelas bawah, miskin, terpelajar atau tidak, dari manapun asalnya, pasti membawa penularan penyakit apapun. Kami yang ada di industri seks pastilah gampang tertular penyakit, tidak peduli apakah kami sudah mengamankan diri dengan karet pelindung, selama kami tidak menaati hukum Allah. Tidak ada yang namanya petualangan seks yang aman. (Tamat)
Pengakuan seorang mantan wanita panggilan kelas atas.