Renungan Harian
16 Maret 2007 -- J U M A T

Perasaan Tidak Mampu sebagai Berkat

Bacaan : II Korintus 3:1-6
3:1 Adakah kami mulai lagi memujikan diri kami? Atau perlukah kami seperti orang-orang lain menunjukkan surat pujian kepada kamu atau dari kamu?
3:2 Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang.
3:3 Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.
3:4 Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus.
3:5 Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.
3:6 Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.

Perasaan tidak mampu dapat menjadi batu sandungan dalam melakukan kehendak Tuhan. Perasaan itu akan menghalangi kita dari melangkah dengan iman untuk menjalankan apa yang dikehendaki Allah. Meski perasaan tidak mampu bukanlah dosa, namun kita dapat jatuh ke dalam dosa bila kita tidak berupaya mengatasi perasaan itu. Tetapi bila kita dapat memberikan respon yang benar terhadap kelemahan kita, maka kita dapat mengubah perasaan tidak mampu itu menjadi berkat.

Rasul Paulus sendiri merasa tidak mampu, namun ia tidak membiarkan perasaannya itu memenjarakannya dan mencegahnya dari memberitakan Injil. Sebaliknya, ia mengakui keterbatasannya itu untuk mendorongnya lebih dekat kepada Allah. Begitu juga seharusnya kita. Reaksi yang seharusnya kita tunjukkan adalah dengan lebih banyak berdoa dan merenungkan firman, sehingga ketergantungan kita kepada Tuhan semakin dikuatkan.

Roh Kudus memampukan kita untuk menerima tugas apapun dari Allah. Kedua belas murid mengikuti Yesus selama tiga tahun. Namun perintah-Nya yang terakhir kepada mereka tidak menyebut sedikit pun tentang keterbatasan mereka: "Pergilah dan beritakanlah kepada dunia tentang Aku, sesudah kamu menerima kuasa Roh Kudus," begitu kira-kira pesan Yesus dalam Kisah Para Rasul 1:4-8. Jadi, orang-orang pilihan Yesus pun ternyata juga orang-orang yang tidak mampu. Namun ketidakmampuan itu justru memberikan kesempatan bagi Allah melakukan hal-hal besar dengan sedikit saja alat. Ingatlah, Musa dan Daud hanyalah dua orang gembala domba biasa, dan Gideon adalah yang paling muda di antara kaum keluarganya (Hakim-hakim 6:15), namun kita lihat bahwa Tuhan berkenan melakukan karya-karya yang mengagumkan melalui mereka.

Perasaan tidak mampu sesungguhnya dapat diubah menjadi berkat bila melalui perasaan itu kita terdorong untuk lebih lagi bersekutu dengan Allah. Kita dapat berkata dengan rendah hati seperti Paulus, "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku" (II Korintus 12:9).


|||||| sumber: http://www.sentuhanhati.com/ ||||||