Krisis Membentuk Karakter
Oleh: Sunanto

Renungan tanggal 30 Oktober 2006

Sepuluh hari terakhir ini, saya banyak menghabiskan waktu di rumah sakit dan setiap malam tidur di sana menemani Ayah saya yang terserang infeksi ginjal akibat saluran kencingnya terhimpit oleh tumor.
Untuk mengisi waktu luang saya membaca buku berjudul “ Reaching For The Invisible God” karya Philip Yancey yang saya beli beberapa tahun yang lalu.
Buku setebal 350 halaman itu saya lalap habis hanya dalam waktu beberapa hari.
Kalimat demi kalimat dari buku tersebut saya renungkan dan aplikasikan dengan peristiwa yang sedang saya alami.
Buku ini membantu saya untuk memahami secara mendalam pergumulan berat yang sedang saya hadapi.

Di hari ke sepuluh ini saya baru benar-benar menyadari bahwa Tuhan memang mengijinkan krisis ini untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup saya.
Aku tahu bahwa aku ada di tempat ini karena rencana Tuhan bukan karena sebuah kebetulan dan semuanya diijinkanNya dalam kasih.
Jalan untuk menuju hidup yang dipenuhi oleh kemuliaan dan sukacita ternyata memang tidak mudah.
Tetapi Tuhan tidak pernah lalai untuk menggenapi janjiNya, pada akhirnya kita pasti akan memperoleh kemenangan asalkan kita tetap setia dan percaya kepada janjiNya.

Philip Yancey menceritakan sebuah kisah tentang pencarian air di pegunungan Rocky yang juga merupakan tempat tinggalnya.
Di tempat itu para penggali sumur harus menggali sampai 640 kaki sebelum mendapatkan air bersih.
Bahkan di kedalaman tersebut air yang ada hanya menetes sehingga mereka mengunakan teknik “fracking” ( Hydro Fracturing).
Air dipompakan menuruni pipa sumur dengan tekanan yang sangat tinggi sehingga batu granit hancur menjadi kerikil dan membuka lapisan batu untuk aliran air.
Tekanan yang sepertinya akan menghancurkan sumur justru membuka lapisan baru.

Ketika membaca kisah ini saya merasa seakan-akan sedang mengalami hal yang sama.
Saya telah mengalami proses penggalian selama bertahun-tahun sampai tiba pada kedalaman tertentu, Tuhan mengijinkan sebuah tekanan maha berat dengan tujuan agar aliran air surgawi itu mengalir dengan deras.
Jawaban untuk ketakutan bukanlah perubahan keadaaan melainkan terpancang kokoh dalam kasih Tuhan.
Kita tidak bisa menghindar dari tekanan dan badai dalam hidup ini sebaliknya kita harus memanfaatkannya untuk memperdalam akar iman kita sampai ke lapisan tanah yang tidak pernah kering.

Hari ini saya bersyukur dengan apa yang telah dan sedang saya alami sebab aliran air surgawi itu telah mengalir dengan deras dalam hidup saya.
Saya menyerahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan dan percaya bahwa sebagai Bapa yang baik, Dia tidak pernah merancangkan hal-hal buruk kepada anak-anakNya.
Tujuan utama Tuhan adalah agar kita bertumbuh menjadi serupa dengan karakter Kristus.
Dia akan mengijinkan apapun termasuk penderitaan dan kekecewaan untuk membentuk karakter kita.
Satu hal yang dapat saya saksikan melalui pengalamaan melewati lembah air mata ini yaitu bila kita setia dan bertahan sampai akhir dalam proses pendewasaan ini maka pada akhirnya kasihNya akan dicurahkan dalam hati kita.
Kasih, sukacita dan damai sejahtera ilahi itu akan mengalir dalam hati kita seperti sungai yang tak pernah kering.
Percayalah, krisis itu memang membentuk karakter !