RENUNGAN HARI INI Selasa, 3 Oktober 2006
PIKIRAN YANG BENAR
Bacaan: Filipi 4:2-9
4:2 Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.
4:3 Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.
4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!
4:5 Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!
4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.
4:7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.
4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.
4:9 Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.
Nats :
“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:7).
Ada pemahaman sekuler yang menekankan betapa pentingnya suatu pola pikir yang positif (The positive thingking). Ini menjelaskan bahwa segala sesuatu dilakukan dengan dasar pemikiran positif. Tidak berprasangka buruk, atau mengambil makna yang baiknya saja terhadap sebuah kejadian.
Bila dalam pemahaman dunia saja ada perkataan seperti itu, maka dalam konteks rohani seharusnya lebih dalam. Sebab, berpikir positif saja dalam pemahaman rohani tidaklah cukup untuk membangun iman. Pikiran yang positif tanpa suatu tindakan dan perkataan yang benar berdasarkan firman Tuhan tidak menghasilkan apa-apa. Jadi, yang paling penting bagi kita umat percaya adalah bagaimana berpikir benar, dengan dilandasi oleh kebenaran firman Tuhan.
Mengapa kita perlu memahami dan membangun sebuah pikiran yang benar? Melalui pikiran orang bebas mereka-reka yang jahat untuk orang lain. Iblis mudah sekali masuk melalui pikiran, karena orang kerap berpikir bahwa apa saja yang dipikirkannya tak akan diketahui orang lain. Jadi pikiran merupakan tempat yang paling “empuk” untuk diserang Iblis, meyusup dalam pikiran orang yang kecewa, sakit hati, trauma atau nafsu. Polanya sangat sederhana namun licik. Pikiran kita dipengaruhi dengan berbagai cara, sampai akhirnya terperangkap dalam dosa.
Jadi, kesadaran kita untuk membangun sebuah pikiran yang berdasarkan kebenaranNya, adalah langkah efektif mencegah penyusupan Iblis. Bergiatlah mendengarkan dan membaca firmanNya, sehingga apa yang ada dalam pikiran kita selalu diperbaharui oleh Roh Kudus (Ef. 4:23). Selain itu pun, firmanNya menegaskan bahwa, “Iman tumbuh melalui pendengaran”, berarti adalah sebuah sikap yang baik untuk terus belajar memahami firmanNya.
Sekarang kita mempunyai pilihan bagaimana mengisi pikiran kita. Apakah menjejalinya dengan berbagai asumsi duniawi, atau mengisinya dengan pemahaman tentang pengajaran firman Tuhan. Pilihan ada di tangan kita, tapi sebagai orang percaya dan mengerti firman Tuhan, adalah sebuah perbuatan bodoh bila kita mau memberikan kesempatan bagi Iblis memasuki alam pikiran kita. (TLT)
Doa:
Berikanlah kepada kami Tuhan kemampuan untuk memelihara firmanMu, agar kami memiliki pikiran yang positif. Amin!
PIKIRAN YANG BERISIKAN FIRMAN MAMPU MENJAUHKAN KITA DARI PERANGKAP IBLIS
|||||| sumber: http://www.glministry.com/ ||||||




LinkBack URL
About LinkBacks


Reply With Quote

Bookmarks