TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEKALIAN

“Semakin kita mengenal Allah dan menyadari apa yang diperbuatNya bagi kita, semakin sering kita akan merespon Allah dengan segala pujian & penyembahan”


BERSERAH PENUH

Pembacaan : I Raja-Raja 20:1-4

20:1. Benhadad, raja Aram, mengumpulkan seluruh tentaranya, tiga puluh dua orang raja bersama-sama dia beserta kuda dan kereta. Lalu ia maju, ia mengepung Samaria dan memeranginya.
20:2 Kemudian ia mengirim utusan ke kota itu, kepada Ahab, raja Israel,
20:3 dengan pesan: "Beginilah pesan Benhadad: Emasmu dan perakmu adalah milikku, dan juga isteri-isteri dan anak-anakmu yang cantik-cantik adalah milikku."
20:4 Raja Israel menjawab, katanya: "Seperti bicaramu itulah, ya tuanku raja. Aku ini dengan segala yang ada padaku adalah milikmu!"

Berserah kepada Tuhan adalah sikap yang selalu benar dan tepat. Namun sayang banyak orang kesulitan melakukan hal ini.

Apa yang dimaksud berserah tanpa syarat itu?

Menyerahkan diri sepenuhnya termasuk segala sesuatu yang kita miliki dan seluruh keberadaan diri kita kepada Kristus. Kita harus semakin kecil dan Dia harus semakin besar. Hal ini harus dimulai dengan sikap, lalu diikuti dengan tindakan di dalam ketaatan.
Tidak membuat batasan terhadap apapun yang Dia ingin lakukan atas kita. Ini berarti tidak ada sesuatupun di dalam hidup kita yang tidak bisa dimasuki oleh Kristus; segala sesuatu di dalam hidup kita harus terbuka bagi intervensi Allah; tidak ada tempat di mana kita dapat berkata kepada-Nya, “Jangan ikut campur, itu urusanku sendiri!” Segenap hidup kita kapanpun, di manapun, dan apapun yang Dia inginkan bisa terjadi atas kita.
Menyerahkan kepemilikan atas tubuh, jiwa dan roh kita kepada Kristus. Dengan melakukan hal ini, berarti kita memegang prinsip-prinsip di dalam Khotbah di Bukit (Matius 5:3-12), tentang buah Roh Kudus (Galatia 5:22-23), tentang hirarki kerajaan (Markus 9:35), tentang menderita demi Kristus (I Petrus 4:13), dan tentang mati bagi diri sendiri (Galatia 2:20).
Alasan utama banyak orang percaya tidak mau berserah sepenuhnya kepada Allah adalah karena rasa takut. Apa yang akan Dia minta daripadaku?
Alasan lain adalah ego kita: Kita ingin tetap memegang kendali atas jadwal ataupun masa depan kita.
Alasan ketiga adalah keangkuhan. Aku tahu apa yang Dia ingin aku lakukan, namun apakah Dia melihat bahwa hal ini akan membahayakan reputasiku? Dan masih banyak lagi.

Hari ini renungkanlah, masih adakah yang menghalangi Anda untuk menyerahkan diri kepada Yesus? Katakanlah, “Yesus, kendalikanlah hidupku sepenuhnya, aku mau taat kepada-Mu.”


|||||| sumber: http://www.sentuhanhati.com/ ||||||