Mengapa Tuhan Mengijinkan Kita Kecewa ?
Oleh: Sunanto
Saya menemukan banyak orang kristen yang mundur sebab mereka mengalami kekecewaan dalam hidup mereka.
Mereka kecewa terhadap saudara seiman, pemimpin rohani bahkan kecewa kepada Tuhan.
Kekecewaan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan ini, malah sebenarnya kekecewaan itu dibutuhkan bagi pertumbuhan rohani kita.
Kasih yang terbesar tumbuh dalam tanah kekecewaan yang tak tertahankan terhadap kehidupan ini.
Setiap kali kita merasa kecewa terhadap sesuatu sebenarnya kita telah menggantungkan kebahagiaan kita kepada hal yang mengecewakan kita.
Jika kita tidak meletakkan kebahagiaan pada seseorang maka kita tidak akan bisa kecewa dengan orang itu.
Seorang suami/isteri kecewa dengan pasangannya sebab dia menggantunggkan kebahagiaannya pada pasangannya tersebut.
Tatkala kita menggantungkan kebahagiaan kita pada seseorang maka kita menuntut orang itu melakukan sesuatu agar dapat membahagiakan kita, dan bila orang tersebut tidak melakukannya maka kita menjadi kecewa.
Sebenarnya kekecewaan hanya menunjukkan bahwa masih ada berhala dalam hidup kita yang perlu dirubuhkan.
Orang yang masih bisa merasa kecewa sebenarnya masih hidup dalam sebuah ilusi.
Yesus tidak merasa kecewa meskipun para muridNya meninggalkanNya saat Dia sedang menderita di atas kayu salib sebab Yesus hidup dalam realita.
Bahkan Yesus tidak kecewa terhadap Petrus yang menyangkalNya tiga kali, malah sebaliknya Ia yang mencari Petrus dan mengajaknya untuk kembali mengikutiNya.
Dalam menjalani proses pendewasaan menjadi serupa karakter Kristus, kita tidak bisa menghindar dari kekecewaan.
Kekecewaan pasti akan terjadi sebab akibat natur dosa yang kita bawa menyebabkan kita cenderung meletakkan kebahagiaan kita di luar Tuhan.
Respon kita menghadapi kekecewaan sangat penting sebab hal itu akan menentukan apakah kita akan naik atau turun.
Milikilah sikap yang positif dan bersyukur saat menghadapi kekecewaan sebab hal itu pasti akan menyebabkan kita menjadi naik.
Rajawali tidak takut dengan badai tetapi ia justru terbang semakin tinggi saat badai datang.
Orang kristen yang memiliki iman sejati akan semakin kuat saat badai kehidupan datang menerpanya.
Satu hari Tuhan mengijinkan saya kehilangan seseorang yang sangat saya kasihi sehingga saya sangat kecewa dan hati saya serasa mau mati.
Malamnya saya bermimpi melihat sebuah makam dengan batu nisan yang bertuliskan nama saya.
Lewat mimpi tersebut Tuhan hendak berbicara bahwa Ia mengijinkan hal itu untuk mematikan keakuan saya.
Proses pengosongan memang sangat menyakitkan tetapi tanpa pengosongan tidak akan ada pengisian.
Kita harus semakin kecil dan Kristus harus semakin besar.
Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Gal 2:20a).
Mengatakan atau menghafalkan ayat ini tidak sukar tetapi untuk mengalaminya sangat sukar.
Biarlah kita semua boleh mengalami Kristus hidup di dalam diri kita !




LinkBack URL
About LinkBacks


Reply With Quote

Bookmarks