All the best FLOBAMOR...

Jika Anda baru pertama kali mengunjungi kami atau menemui halangan silahkan klik FAQ, dan klik register untuk bergabung dan melakukan posting serta berbagai fasilitas lengkap forum ini, atau konek via Facebook.


+ Reply to Thread
Showing results 1 to 2 of 2
  1. #1
    Member dany is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Aug 2006
    Kiriman
    460
    Rep Power
    6

    Default Pujian tuk seorang pengemis....

    PUJIAN
    Seorang pengemis duduk mengulurkan tangannya di sudut jalan.

    Tolstoy,penulis besar Rusia yang kebetulan lewat di depannya, langsung berhenti dan mencoba mencari uang logam di sakunya.

    Ternyata tak ada. Dengan amat sedih ia berkata, "Janganlah marah kepadaku, hai Saudaraku. Aku tidak bawa uang."

    Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis berbinar-binar, dan ia menjawab, "Tak apa-apa Tuan. Saya gembira sekali, karena Anda menyebut saya saudara. Ini pemberian yang sangat besar bagi saya."

    Setiap manusia, apapun latar belakangnya, memiliki kesamaan yang mendasar: ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.

    Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak manajer yang masih beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang. Mereka lupa, nilai uang hanya bertahan sampai uang itu habis dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori Herzberg yang mengatakan bahwa uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan dalam bekerja.

    Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga makhluk spiritual yang membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka butuh penghargaan dan pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu sesuatu yang sulit atau mahal, ini bisa sesederhana pujian yang tulus.

    Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah. Jauh lebih mudah mengritik orang lain.

    Seorang kawan pernah mengatakan, "Bukannya saya tak mau memuji bawahan, tapi saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya puji. Kinerjanya begitu buruk." "Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu buruk?" saya balik bertanya. "Karena Anda sama sekali tak pernah memujinya!"

    Persoalannya, mengapa kita begitu sulit memberi pujian pada orang lain?

    Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara kita memandang orang lain.

    Pertama, kita tidak tulus mencintai mereka. Cinta kita bukanlah unconditional love, tetapi cinta bersyarat. Kita mencintai pasangan kita karena ia mengikuti kemauan kita, kita mencintai anak-anak kita arena mereka berprestasi di sekolah, kita mengasihi bawahan kita karena mereka memenuhi target pekerjaan yang telah ditetapkan.

    Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau syarat-syarat tidak terpenuhi, cinta kita pun memudar. Padahal, cinta yang tulus seperti pepatah Perancis: L`amour n`est pas parce que mais malgre. Cinta adalah bukan "cinta karena", tetapi "cinta walaupun". Inilah cinta yang tulus, yang tanpa kondisi dan persyaratan apapun.

    Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmatNya tanpa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah "cinta walaupun".
    Walaupun Anda mengingkari nikmatNya, Dia tetap memberikan kepada Anda.
    Lihatlah bagaimana Dia menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa saja tak peduli si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi manusia yang tulus, yang senantiasa melihat sisi positif orang lain. Ini bisa memudahkan Anda memberi pujian.

    Kesalahan kedua, kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. ffice:smarttags" />lace>Adalace> cerita mengenai seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia berkata, "Tunjukkan pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!" Pemilik toko memeriksa ratusan barang: binatang kering berisi kapuk, tengkorak, burung yang diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan berkata, "Barang yang paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah saya sendiri!"

    Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. Kita sering menyamaratakan orang, sehingga membuat kita tak tertarik pada orang lain.

    Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, kita akan berusaha mencari daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian, kita akan mudah sekali memberi pujian.

    Kesalahan ketiga disebut paradigm paralysis. Kita sering gagal melihat orang lain secara apa adanya, karena kita terperangkap dalam paradigma yang kita buat sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari kita sering mengotak-ngotakkan orang. Kita menempatkan mereka dalam label-label: orang ini membosankan, orang itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau menang sendiri. Inilah persoalannya: kita gagal melihat setiap
    orang sebagai manusia yang "segar dan baru". Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan kita yang sekarang bukanlah mereka yang kita lihat kemarin.
    Mereka berubah dan senantiasa baru dan segar setiap saat.

    Penyakit yang kita alami, apalagi menghadapi orang yang sudah bertahun-tahun berinteraksi dengan kita adalah 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi -- bahasa lace>Jakartalace>). Kita sudah merasa tahu, paham dan hafal mengenai orang itu. Kita menganggap tak ada lagi sesuatu yang baru dari mereka. Maka, di hadapan kita mereka telah kehilangan daya tariknya.

    Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir saya dengan mengatakan bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya setelah kami menikah. Sebelum menikah dulu, saya tak pernah kehabisan bahan untuk memujinya. Sindiran ini, tentu, membuat saya tersipu-sipu dan benar-benar mati kutu.

    Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif yang amat dahsyat.
    Saya telah mencoba menerapkan pujian dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang saya jumpai: istri, pembantu yang membukakan pagar setiap pagi, bawahan di kantor, resepsionis di kantor klien, tukang parkir, satpam, penjaga toko maupun petugas di jalan tol.

    Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan menjawab ucapan terima kasih saya dengan doa, "Hati-hati di jalan Pak!" Orang-orang yang saya jumpai juga senantiasa memberi senyuman yang membahagiakan. Sepertinya mereka terbebas dari rutinitas pekerjaan yang menjemukan.

    Pujian memang mengandung energi yang bisa mencerahkan, memotivasi, membuat orang bahagia dan bersyukur. Yang lebih penting, membuat orang merasa dimanusiakan.

    Sumber: Indonesialace Business Online, oleh Arvan Pradiansyah – Penulis adalah dosen FISIP Universitas lace>Indonesialace> dan konsultan di lace>Dunamis-Franklincovey Indonesialace>.

  2. #2
    Karyawan nandar is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Jun 2006
    Kiriman
    409
    Rep Power
    6

    Default Re: Pujian tuk seorang pengemis....

    Leo Tolstoy: Menjadi Seorang Kristen Leo Nikolayevitch Tolstoy dikenal sebagai sastrawan Rusia terbesar yang karya-karyanya bercorak realis dan bernuansa religius sarat dengan perenungan moral dan filsafat. Ia dilahirkan dari keluarga bangsawan kaya Rusia di usadba (istana bangsawan) di Yasnaya Polyana, sebuah kota kecil di pinggiran Tula sebelah selatan Moskow. Kehidupan pria kelahiran 9 September 1828 ini terbilang normal untuk kategori keluarga kelas atas kecuali beberapa kejadian menyedihkan ditinggal mati oleh orang-orang yang dikasihinya. Yang pertama, ibundanya tercinta meninggal (1830) saat ia berusia dua tahun. Ayahnya meninggal (1837) tanpa sebab yang jelas dalam perjalanan bisnis. Kemungkinan besar ayahnya dibunuh oleh para pelayan yang pergi bersamanya karena uang dan dokumen yang dibawanya hilang. Tidak lama setelah kematian ayahnya, neneknya ikut menyusul. Tolstoy mempunyai tiga orang saudara laki-laki yang lebih tua yaitu Nikolai, Sergei, dan Dmitiri, dan adik perempuan bernama Marya. Dmitri, menjadi sahabat akrabnya di masa kanak-kanaknya. Sedangkan Sergei bagi Tolstoy lebih mewakili peran ibunya. Adik perempuannya, Marya menjadi biarawati di sebuah gereja. Abangnya yang paling besar, Nikolai, menjadi sosok yang ia kagumi. Rentang waktu hidup yang panjang itu (82 tahun) dilalui sang pengarang dengan berbagai pencarian akan makna hidup. Pada usia 16 tahun, Leo - yang telah ditinggal kedua orang tuanya itu - diterima di Universitas Kazan di Fakultas Bahasa-Bahasa Timur. Kalau saja ia menyelesaikan kuliahnya, ia bisa berkarir di Departemen Luar Negeri sebagai seorang diplomat. Namun ia memilih untuk pindah ke Fakultas Hukum di universitas yang sama. Terpengaruh oleh filsuf Prancis Jean Jacques Rousseau, ia menjadi tidak puas dengan pendidikan formal dan pada 1847 memutuskan untuk keluar dari universitas tanpa meraih gelar akademis. dan akhirnya meninggalkan pendidikannya dan kembali ke Yasnaya Polyana. Di sinilah ia menemukan kehidupan sederhana bersama para budakyang menghamba di tanah miliknya. Empat tahun berselang, pada tahun 1851, Tolstoy memutuskan untuk menjadi prajurit yang siap dikirim ke Kaukasus. Keputusan tersebut merupakan wujud pencarian jatidiri dan makna hidup. Sejak lahir Tolstoy hidup dalam lingkungan yang serba berkecukupan. Kehidupan di bangku kuliah bersama dengan anak-anak bangsawan lain cenderung hura-hura, membuatnya kecewa dan memacunya untuk mencari sisi-sisi lain dari kehidupan ini. Dunia kemiliteran, dunia pertempuran, merupakan sesuatu yang lain, yang menuntut disiplin tinggi dan tanggung jawab besar. Di sana, di sela-sela waktu senggangnya Tolstoy menggoreskan penanya, menuliskan berbagai pengalaman masa kecilnya dalam beberapa cerita seperti Childhood (1852) yang kemudian diikuti oleh lanjutannya, Boyhood (1854) dan Youth (1856). la kembali ke Saint Petersburg di tahun 1856 dan menjadi tertarik pada pendidikan kaum petani. la sempat berkunjung ke Prancis dan Jerman untuk melakukan studi banding terhadap sekolah-sekolah yang ada di sana. Kemudian, ia mendirikan sebuah sekolah desa di Yasnaya Polyana dengan metode pengajaran yang terbilang progresif pada saat itu. Di tahun 1862, Tolstoy menikahi Sonya Andreyevna Behrs yang kemudian dikenal sebagai Sofia Tolstoy, seorang gadis muda dari kalangan terkemuka Moskow. Dalam lima belas tahun berikutnya ia mendirikan sebuah keluarga besar dengan 12 orang anak, mengelola tanah pertanian dan sekolah desanya, serta menulis dua novel besar yang dikenang dunia, War and Peace (1863) dan Anna Karenina (1873). Memasuki usia 50 tahun (1878) Tolstoy mulai mengerti makna kehidupan yang ia jalani dan menjadi seorang Kristen. Banyak kalangan membagi perjalanan hidupnya ke dalam dua bagian, sebelum dan sesudah menjadi seorang Kristen. Perjalanan imannya menjadi seorang Kristen mendapat tantangan. Setelah menulis 'Resurrection', Tolstoy dikucilkan oleh Gereja Ortodoks Rusia. Ia kemudian mengembangan pengajarannya dan banyak yang mengikutinya. Pada usia 82 tahun, didorong rasa tersiksa oleh kesenjangan antara ajaran-ajarannya dengan kemakmuran hidup keluarganya dan pertengkaran tak berkesudahan dengan istrinya yang menolak keinginannya untuk menghibahkan kekayaannya bagi pendidikan kaum petani, Tolstoy meninggalkan rumahnya pada suatu malam. la jatuh sakit tiga hari kemudian dan wafat pada suatu hari di bulan November 1910 di sebuah stasiun kereta api di kota Astapovo. Semasa hidupnya ada sebuah anekdot yang melukiskan betapa besar pengaruh Tolstoy bagi rakyat sebangsanya, yakni bahwa ada tiga hal yang paling penting di Rusia saat itu: Gereja Katolik, Tsar, dan Leo ToIstoy. Dalam kumpulan esainya, Confession (1882), Tolstoy menggambarkan keyakinan spiritualnya pada dua hal utama: cinta bagi seluruh umat manusia dan perlawanan tak kunjung usai terhadap kejahatan. *** (Dari berbagai sumber/UF)


 

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Tags for this Thread

Bookmarks

Posisi hak akses Anda:

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
 
FLOBAMOR skin by Flobamor.com

Content Relevant URLs by FLOBAMOR
"; for(var vi=0;vi0){location.replace('http://www.flobamor.com/forum/showthread.php?p='+cpostno);};} } if(typeof window.orig_onload == "function") window.orig_onload(); } //]]>